NEWS
Trending

Perlu Road Map Konkret Pengembangan EBTKE

Perlu Road Map Konkret Pengembangan EBTKE
Hariyanto, Direktur Konservasi Energi, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM. Foto: R Akmal/Listrik Indonesia
Listrik Indonesia | Hariyanto, Direktur Konservasi Energi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM mengatakan pembangunan dan pengembangan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) terus didorong pemerintah. Salah satunya, dengan ditandatanginya sekitar 75 kontrak baru pembangunan dan pengembangan EBTKE yang sudah berjalan.

“Ke depannya, diharapkan pemerintah mempercepat commercial operation date (COD) pembangkit tenaga listrik berbasis EBTKE. Di sisi lain selain EBTKE ada konservasi energi. Konservasi energi adalah bagaimana menggabungkan antara pemanfaatan EBTKE dan bagaimana kita mengkonservasikan energi,” ujar Hariyanto, kepada Listrik Indonesia, dalam launching Penghargaan Subroto Bidang Efisiensi Energi Tahun 2019, di Gedung Slamet Bratanata, Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Lanjut dia, energi yang berasal dari fosil tersedia dalam jumlah terbatas sehingga perlu mencari energi alternative melalui EBTKE. “Salah satu langkah yang telah perlu dilakukan dengan mendorong pelaksanaan Peraturan Pemerintah tentang rooftop PV atau aplikasi pembangkit listrik tenaga surya dengan Permen No 49 Tahun 2018. Jika disinergikan dengan konservasi energi, pemasangan roof top PV di gedung-gedung komersial bisa menurun biaya pembayaran listrik,” jelas dia.

Saat ini, Hariyanto menambahkan, kami sedang memfasilitasi antara provider di roof PV agar semakin tumbuh atau muncul proyek-proyek untuk pemanfaatan EBTKE. “Lima tahun ke belakang pemanfaatan untuk PV masih relatif kecil dibandingkan potensi yang ada. Pasalnya, target 23% bauran energi terbarukan harus di capai di 2025, maka kita memanfaatkan penggunaan roof top PV. Ke depannya kami sedang mempersiapkan road map kegiatan konkret apa yang bisa dilakukan dan berapa mega Watt yang dapat terinstal untuk mencapai angka 23% di 2025,” pungkas Hariyanto. (TS)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button