AGENDA Renewable Energy ENERGY PRIMER
Trending

Pengembangan Energi Surya Saatnya Tancap Gas

Pengembangan Energi Surya Saatnya Tancap Gas

Listrik Indonesia | Tidak heran jika pemanfaatan energi surya di Indonesia masih sangat rendah, hanya 0,07% atau sekitar 153,5 megawatt (MW) yang baru dimanfaatkan dari potensi yang ada 207,8 gigawatt (GW). Ibarat kendaraan setelah dinyalakan, gas harus segera diinjak agar cepat melaju.

Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indo­nesia (AESI)  Ir. Andhika Prastawa men­jelaskan, bahwa pendanaan dan per­izinan masih menjadi kendala utama dalam pengembangan energi surya di Tanah Air sehingga kapasitas terpasang panel surya belum optimal sampai saat ini.

Ia memaparkan, skala keeko­no­mian energi surya di Indonesia baru mulai terbentuk dalam 5 tahun terakhir. Harga teknologi modul surya mulai turun, cell efficiency mulai naik, dan pemerintah mulai mendorong energi terbarukan tersebut melalui regulasi, insentif, dan program Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap.

“Panel surya di Indonesia belum dapat berkembang cepat karena masalah pendanaan dan perizinan,” ujarnya kepada Listrik Indonesia, belum lama ini..

Andhika memimpin AESI sejak awal 2018. Asosiasi ini memiliki anggota individual sekitar 200 orang dan 40 diantaranya merupakan perusahaan seperti pabrikan modul surya, kontraktor EPC, perusahaan investasi dan pendanaan, serta konsultan energi.

Selain itu, menurutnya, dalam 5 tahun terakhir, energi surya masih mengandalkan proyek pemerintah dan pengembang listrik swasta (IPP). “Dua hal ini (proyek pemerintah dan IPP) sangat bergantung pada pendanaan pemerintah dan kemampuan PLN untuk membeli listrik dari IPP. Oleh karena itu, pertumbuhan sangat lambat,” ucapnya.

Andhika menegaskan, dengan ber­bagai kendala tersebut, AESI berupaya untuk mendorong pasar ketiga, yaitu golongan pelanggan individu/rumah tangga. Pasar pertama energi surya adalah PLN, pasar kedua pemerintah, dan pasar ketiga pelanggan individu (rumah tangga, pabrik/industri, dan gedung perkantoran/komersial). Akhirnya muncul Gerakan Nasional Sejuta Atap pada 2019 untuk men­dorong penggunaan surya atap bagi rumah tangga/individu, industri/pabrik, dan komersial.

“ Indo­ne­sia relatif sudah menguasai tekno­logi panel surya. Namun, perlu ada jaminan keberlangsungan industri dari hulu sampai hilir. AESI, juga sedang mengkaji dampak intermittency energi surya di Jawa-Bali terhadap sistem kelistrikan PLN. Karena itu akselerasi energy surya harus tancap gas,” pungkasnya.

Artikel lengkapnya dibahas pada Majalah Listrik Indonesia edisi 78 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button