Renewable Energy ENERGY PRIMER
Trending

PEMIKIRAN HERMAN DARNEL IBRAHIM Antara Surya & Batu Bara Menuju Bebas Karbon

PEMIKIRAN HERMAN DARNEL IBRAHIM Antara Surya & Batu Bara Menuju Bebas Karbon
LISTRIK INDONESIA | Ambisi Indonesia dalam menuju net zero emission (NZE) tidak akan jauh dari peran energi surya dan batu bara. Batu bara masih menjadi penopang energi nasional. Di sisi lain, energi surya menjadi tumpuan untuk meningkatkan energi terbarukan.
 
Puncak emisi (peak emision) Indonesia diproyeksikan baru tercapai pada 2050 karena masih membutuhkan suplai energi untuk pertumbuhan ekonomi agar dapat keluar dari midlle income trap.
 
Sementara itu, negara-negara maju sudah mencapai puncak emisi jauh sebelum 2021. Misalnya Inggris pada 1973, AS pada 2007, Jepang 2004 dan Uuni Eropa pada 1979.
 
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) 2021 - 2025 Herman Darnel Ibrahim menjelaskan bahwa untuk menuju net zero emission, Indonesia harus melalui puncak emisi terlebih dulu.
 
"Puncak emisi diproyeksikan pada 2045 - 2050 sehingga konsumsi energi di negara ini sampai periode tersebut masih akan terus bertumbuh. Setelah puncak emisi selanjutnya menuju ke net zero emission yang diperkirakan pada 2070 dengan konsumsi energi fosil 100 MTOE dan 90% energi baru dan terbarukan," ujarnya berdasarkan pandangan pribadi sebagai pakar ketenagalistrikan, dalam Webinar Nasional DEN: Menuju Transisi Energi, Senin (27/9).
 
Saat ini, toal konsumsi energi nasional sekitar 210 MTOE terdiri atas sekitar 90% energi fosil.
 
Herman menuturkan pada saat menuju NZE yang kemungkinan akan tercapai pada 2070, 85%-90% energi final yang dikonsumsi dalam bentuk listrik.
 
Dia menuturkan, pada saat tercapa NZE pada 2070, asumsi jumlah penduduk 392 juta orang, GDP per kapita US$16.698, elastisitas konsumsi energi 0,6, pertumbuhan konsumsi energi 1,2%, konsumsi energi prumer 1.136 MTOE yang terdiri atas energi terbarukan 1.036 MTOE.
 
"Dengan skenario ini, energi terbarukan harus tumbuh double digit sampai 2040 dan peak emission akan dicapai pada 2050," tuturnya.
 
Selain itu, menurutnya, pertumbuhan energi terbarukan sejak saat ini sampai 2040 harus tubuh secara eksponensial dan double digit untuk mencapai target NZE pada 2070. Di sisi lain, realisasi pertumbuhan energi terbarukan saat ini masih sangat rendah, di kisaran 10%.
 
Saat ini, energi fosil masih sangat dominan mencapai sekitar 90% yang didominasi batu bara. Dengan pertimbangan cadangan batu bara cukup besar, diproduksi di dalam negeri, harga lebih murah, dan menjadi base load sehingga masih menjadi penopang energi nasional. Peran batu bara saat ini di Indonsia berkontribusi sekitar 81 MTOE atau kisaran 150 juta ton per tahun, sedang sebagian besar batu bara masih diekspor ke berbagai negara, terutama China. "Ini peranan batu bara, masih menjadi tulang punggung pasokan energi nasional."
 
Herman menyarankan agar phase out batu bara dipilih setelah Indonesia mencapai emisi puncak. Sebelum phase out sebaiknya cukup dengan moratorium batu bara, kemudian energi fosil akan bergeser ke gas alam atau pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU).
 
Dia menambahkan dengan skenario NZE 2070, konsumsi energi fosil diperirakan masih meningkat 2 kali lipat dari saat ini, yaitu dari 198 MTOE pada 2020 menjadi 368 MTOE pada 2050.
 
Oleh karena itu, untuk menuju NZE pada 2070 atau 2060, energi terbarukan harus terus didorong, terutama pembangkit listrik tenaga surya. "Tanpa PLTS besar tidak mungkin mencapai NZE pada 2060 dan juga 2070. Tantangan pengembangan PLTS adalah solusi teknologi untuk penetrasi yang melebihi 50% pada 2040 dan sekitar 90% menuju NZE."
 
Menurutnya, jika penyediaan PLTS, PLTGU, dan atau pembangkit hijau lainnya tidak mencukupi, kemungkinan muncul kebutuhan untuk PLTU batu bara lagi. "Baru saja di Inggris terjadi dengan mengoperasikan kembali PLTU, Indonesia juga begitu, PLTU ditahan dulu, standby, ketika terjadi kesulitan energi, masih tersedia suplai dari PLTU. PLTU sebagai contigency, belum perlu phased out, cukup moratorium, masih banyak ketidakpastian pada faktor-faktor yang menentukan transisi energi karena itu PLTU batu bara akan tetap menjadi kuda hitam, sebagai contigency untuk mengamankan penyediaan listruk jika."

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button