NEWS
Trending

Kemenperin: Kontribusi Industri Lebih Besar Jika Ekonomi di Atas 5%

Kemenperin: Kontribusi Industri Lebih Besar Jika Ekonomi di Atas 5%
(Foto: Galuh Firdaus)
Listrik Indonesia | Pertumbuhan industri kelistrikan di Indonesia dinilai banyak memiliki persaingan dengan negara tetangga. Bagaimana tidak. Dari tahun ke tahun kebutuhan akan energi listrik masyarakat Indonesia semakin meningkat, terlebih lagi saat ini memasuki zaman di era digitalisasi. 

Direktur Jenderal ILMATE Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawiryawan menilai, pertumbuhan industri kelistrikan di Tanah Air masih di angka 5%, berdampingan dengan pertumbuhan ekonomi.

Pasalnya, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih berada di angka 5%. "Jika industri mau berkontribusi lebih besar, kita harus tumbuh di atas 5%. Sehingga pertumbuhan listriknya juga diatas 5%. Jika tidak industri kita tidak bisa bersaing sama negara tentangga kita," ungkap Putu Suryawirawan kepada listrikindoneisa.com di Jiexpo, Kemayoran, Jakarta (26/07).

Menurutnya, jika industri tidak bisa tumbuh, investor akan berinvestasi di negara tetangga. "Orang (investor) akan taruh industrinya di negara tetangga dan produknya dibawa ke sini (Indonesia). Itu sama saja kita kasih makan orang lain, kalau bisa taruh industrinya disini, lapangan kerjanya disini, industri pendukungnya juga dari sini," paparnya.

Selain itu, terkait dengan program 35.000 Megawatt (MW) yang tengah berlangsung, pastinya hal itu juga menjadi pendorong untuk tumbuhnya industri kelistrikan di Indonesia.

"Dengan adanya program 35.000 MW tahun lalu pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) 4/2016 untuk menunjang infrastruktur kelistrikan, tujuannya supaya industri pendukungnya bisa tumbuh," bebernya.

Lebih jauh ia mengatakan, "Dengan adanya program 35.000 MW itu kita harapkan, industri dalam negerinya tumbuh, jangan kita kebanyakan impor".

Kemenperin menargetkan penggunaan lokal konten sekitar 40% didalam program kelistrikan 35 ribu MW. "Mungkin yang sulit-sulit seperti turbin yang besar-besar kita impor. 10 MW ke bawah kita bikin di dalam negeri, tapi 10 MW ke atas kita impor," paparnya.

"Jangan yang kecil-kecil kita juga impor. Kasih pekerjaan anak-anak dalam negeri kitalah, jangan dikerjakan anak-anak tetangga," tandasnya. (GF)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button