AGENDA
Trending

HLN Ke-75, Maksimalkan Potensi EBT Khususnya Energi Angin

HLN Ke-75, Maksimalkan Potensi EBT Khususnya Energi Angin
Ketua Umum AEAI Agung Hermawan

Listrik Indonesia | Asosiasi Energi Angin Indonesia (AEAI) mengucapkan selamat Hari Listrik Nasional ke-75. Ketua Umum Asosiasi Energi Angin Indonesia (AEAI) Agung Hermawan melihat sektor kelistrikan beberapa tahun terakhir ini sudah cukup bagus dengan beberapa indikasi; listrik tersedia cukup, listrik mampu mendorong industri, ini kondisi yang berbeda pada awal tahun 2010 atau sebelumnya di mana investor yang akan berinvestasi atau industri yang akan dibuka harus menunggu pasokan listrik dahulu. Indikasi lain yaitu keadilan listrik yang semakin baik, terefleksi dari angka elektrifkasi desa yang sudah mencapai 99%.
 

Namun, perlu dicatat masih ada PR pemerintah/PLN dan para mitranya untuk menuntaskan 100% elektrifikasi dan disparitas kelistrikan yang terjadi. Selain itu, mungkin tidak lupa dengan memperbaiki baurannya saja yang harus lebih mengutamakan listrik yang bersumber pada energi terbarukan. Keberpihakan kepada energi yang memperhatikan lingkungan ini yang tidak boleh terlupakan, sehingga kualitas energi yang dihasilkan dapat lebih baik.

 

Dari persoalan tersebut, Asosiasi berharap agar pemerintah dan PLN tetap konsisten dengan program, rencana dan targetnya seperti yang disebut dalam RUKN/RUPTL dan Road Map setiap jenis energi. Panduan dan Kepastian ini sangat penting bagi kami para pengusaha/investor yang sejatinya adalah mitra PLN. Konsistensi juga berarti efisiensi, tidak ada investasi dan effort awal yang terbuang sia-sia.

 

Tentang disparitas yang disebut di atas adalah adanya ketimpangan yang terjadi antara daerah yang sudah menikmati listrik dengan desa-desa yang masih minim aliran listrik terbatas. Asosias mengapresiasi program Dediesilisasi pemerintah yang sudah menjawab sebagian persoalan disparitas ini.

 

Dengan energi angin dengan small scale wind power, wind hybrid dan teknologi pendukung seperti baterai/Energy Storage System, micro and smart grid akan berkontribusi maksimal menuntaskan disparitas ini. Agar kami bisa berkontribusi tentu saja diperlukan aturan main yang “workable” dalam penyediaan listrik skala kecil di remote area dan tersedia 24 jam terus menerus.

 

Tak hanya itu, Agung juga menyampaikan, bahwa harus diluruskan disini pendapat bahwa Pembangkit EBT mahal, sebenarnya kalau kami dari para Asosiasi pembangkit EBT diberikan kuota yang jauh lebih besar dari saat ini ada kemungkinan kami dapat membangkit listrik yang jauh lebih murah dari saat ini, tetapi karena kuota yang diberikan kecil dan terbatas maka berdampak pada harga produksi yang kelihatan lebih tinggi dari yang umum terjadi.

 

Mengenai pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) berskala besar, saya mewakili AEAI berharap pemerintah mendukung dan mendorong pembangunan PLTB dengan memberikan porsi yang  lebih besar mengingat potensi energi angin yang dimiliki Indonesia cukup besar dan tersebar di beberapa wilayah, dan perlu sama-sama dipahami dalam jangka panjang biaya pembangkitan dari energi berbasis EBT termasuk angin akan jauh lebih rendah apalagi jika kita turut menghitung dampak lingkungan yang terjadi jika dibandingkan listrik berbasis fosil. (Cr)


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button