Biomassa Untuk Ekonomi Kerakyatan

Author : listrikinfo@gmail.com Dibuat : Jan 26, 2020

Biomassa Untuk Ekonomi Kerakyatan

Listrik Indonesia | Bahan nabati (Biomassa) mulai menjadi alternatif baru untuk mengurangi konsumsi minyak bumi dan bahan bakar fosil lainnya. Kemudian ditemukan cara penggunaan Biomassa menjadi pendukung ekonomi kerakyatan.
 

Biomassa sebagai energy security ternyata dapat membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Hal ini dipaparkan oleh Pandu Angklasito, Direktur Utama PT Sentra Teknologi Terapan perusahaan lokal yang berfokus kepada pengolahan sampah menjadi sumber energi.
 

Ada dua hal yang menjadi fokus pemerintah saat ini, namun belum mampu mendapatkan hasil yang komprehensif. Pertama adalah pengelolaan sampah terutama di wilayah perkotaan. Kedua adalah rasio elektrifikasi di wilayah terpencil dan di kepulauan, di mana proyek listrik skala besar pun belum mampu menyolusikannya.
 

“Pengelolaan sampah saat ini masih terpusat, kemudian bagaimana caranya melakukan pengelolaan sampah menjadi hal yang bermanfaat di Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS),” Ucap Pandu beberapa waktu lalu.
 

Titik fokus penelitiannya ialah membuat pelet dari sampah yang nanti menjadi bahan bakar untuk menghidupkan Pembangkit Listrik Tenaga Disesel (PLTD) namun di sini lebih tepatnya disebut Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa. Saat itu penelitian dinahkodai Supriadi Legino mantan Ketua STT PLN. Kemudian PT Sentra Teknologi Terapan mencoba mengomersilkannya.
 

Lanjut dia berkata, soal rasio elektrifikasi di daerah terpencil atau kepulauan yang belum menyeluruh. Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa  menjadi solusi alternatif, terlebih dapat membantu ekonomi masyarakat sekitar dengan kehadiran listrik di tempatnya. “Dengan adanya listrik tentu bisa meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat,”ucap Pandu.
 

“Ini sebuah gebrakan baru pembangunan listrik berbahan bakar Biomassa untuk ekonomi kerakyatan,”sambungnya.
 

Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa  bisa dibangun di mana saja dan memberdayakan tenaga kerja setempat. Tidak hanya untuk menerangi rumah saja, tetapi juga untuk menghidupkan industri di pedesaan atau wilayah terpencil.
 

“Daripada nelayan membeli es balok yang mahal untuk mengawetkan ikan atau petani menggunakan mesin penggilingan. Mereka kan harus mengeluarkan biaya untuk bahan bakarnya yang menggunakan BBM. Alangkah lebih hematnya menggunakan listrik yang bahan bakarnya bisa dibuat sendiri dengan memanfaatkan sampah. Inilah yang kita sebut Listrik Kerakyatan,” tuntasnya. (CR)

 

 

 


Tags : News


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top